Dialog orang soleh

September 5, 2009

Sahabatku,

Dialog yang terjadi dengan orang-orang soleh, selalu penuh nasihat dan bahkan sindiran yang begitu kuat menancap di hati. Seperti pertanyaan yang pernah diajukan seorang soleh bernama Muhammad bin Wasi ’rahimahullah kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu hairan, jika kamu melihat seseorang menangis di syurga?” Orang-orang yang berada di sekitar Muhammad bin Wasi ’ menjawab pasti, “Tentu saja kami hairan wahai Syaikh.” Lalu Muhammad bin Wasi ’ mengatakan, “Seharusnya kita lebih hairan apabila melihat seseorang yang masih hidup di dunia, tertawa terbahak, sementara ia belum tahu bagaimana akhir perjalanannya di akhirat kelak….” Kita, begitu memerlukan dialog-dialog seperti ini. Dialog yang keluar dari lisan seorang soleh, dan langsung menyentak kesedaran. Muhammad bin Wasi ’rahimahullah yang mengucapkan nasihat begitu menusuk hati tadi, adalah seorang salafusoleh di zaman Tabi ’in yang terkenal kerana doa-doanya sering dikabulkan Allah swt. Ucapannya tadi, begitu menyentak hati kita yang selama ini sering terlena dengan kebahagiaan dan kesenangan dunia, dengan mengabaikan perhitungan bagaimana nasib dan keadaan kita di akhirat.

Sahabatku,

Ketahuilah, bahawa jerat syaitan yang paling berbahaya adalah ketika dunia begitu menguasai hati dan potensi seseorang. Hati yang sudah dijejaki oleh dunia, akan menjadi longlai, lemah dan tak mampu melakukan perlawanan apapun terhadap arah gelombang bisikan syaitan yang membuat seseorang terumbang ambing, tak tentu arah. Dunia yang telah menguasai hati menjadikan seseorang lemah keinginan untuk terbang ke tingkat ubudiyah yang tinggi. Hati yang dikuasai dunia, menjadi lebih berat, malas, dan terbelenggu oleh kesalahan.

Sahabatku,

Jerat syaitan itu bernama ghaflah, yang ertinya lalai. Berapa sering kita terjerat oleh jebakan syaitan itu? Saat kehidupan begitu menyeret dan menjauhkan kita dari Allah swt. Sedikit demi sedikit. Sejengkal demi sejengkal. Hampir tak terasa. Sampai saat kita tersedar, ternyata kita sudah begitu jauh meninggalkan ketaatan. Ternyata, sudah terlalu jauh jarak yang kita wujudkan antara kita dengan Allah SWT. Sudah terlampau lama kita berpura-pura lupa dan melupakan Allah swt. Mungkin, ada sebahagian kita yang selanjutnya justeru tak mampu lagi untuk kembali. Saat kita, tidak bersedih lagi atas kelalaian yang dilakukan. Saat kita, tidak berduka lagi dengan dosa yang berulangkali kita lakukan. Saat kita, tidak lagi menangis dan sama sekali tidak menitikkan air mata atas kemaksiatan dan kemungkaran.

Sahabatku,

Itulah ghaflah, kelalaian. Itulah jerat syaitan yang paling berbahaya. Ghaflah, penyakit yang menjangkiti hati agar hati menjadi rela dengan kondisi yang rendah, tenang dengan kemaksiatan, dan begitu mengikat mata dengan dunia. Tak ada tempat lagi untuk akhirat. Renungkanlah firman Allah,

“…Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (An Naml:24)

Sahabatku,

Mari mendiagnosis hati kita, andai kita terjerat oleh jebakan syaitan yang berbahaya ini. Bertanyalah sahabatku, tentang berapa banyak kita mengingat tentang solat malam yang kita tinggalkan dalam satu bulan? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa kali kita bermuhasabah dan merenungi kesalahan dan dosa, lalu kita bersedih atau menangisinya? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa kali kita telah membaca dan mengkhatamkan Al Quran seumur hidup? Berapa banyak kita mengajak dan mendorong keluarga untuk, setidaknya membaca dan mengkhatamkan Al Qur’an? Bertanyalah sahabatku, tentang seberapa rindu kita kepada syurga? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa banyak kita memikirkan jarak yang membezakan antara hidup hingga titik kematian yang tak pernah kita tahu bila datangnya?

Sahabatku,

Mari bandingkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan pertanyaan lain. Bertanyalah sahabatku, tentang berapa sering kita berpikir untuk membeli pakaian dan aksesoris rumah? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa banyak kita berfikir untuk mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi keperluan hidup yang tak pernah cukup? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa kali kita mengingat dan menginginkan makanan yang enak dan lazat? Bertanyalah sahabatku, tentang berapa sering kita memikirkan masa depan dunia kita?

Sahabatku,

Bagaimana kita menjawab dan membandingkan antara dua kelompok pertanyaan tadi? Mari buka jerat-jerat ghaflah yang melilit jiwa dan hati kita. Perhatikan dengan teliti, renungkan dalam-dalam, dosa dan kemaksiatan apa yang kita tinggalkan di hari ini, di hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun yang telah lalu? Lalu, bekal kebaikan apa yang sudah kita persiapkan untuk hari setelah mati?

Sahabatku,

Dengarkanlah lagi, sebuah dialog penuh nasihat dan sindiran yang menyedarkan antara seorang soleh, Hasan Al Bashri, dengan seseorang yang ada di sampingnya. Saat pemakaman jenazah, Hasan Al Bashri rahimahullah bertanya pada seseorang, “Menurutmu, jika dia kembali hidup di dunia, apakah dia akan melakukan amal soleh?” Orang itu menjawab, “Ya, pasti.” Hasan Al Bashri menyambut perkataan itu dengan jawapan, “Jika dia sudah tidak mungkin hidup kembali di dunia untuk melakukan amal soleh, engkaulah yang seharusnya sekarang melakukan amal-amal soleh…”

Leave a Reply